#Tips&Trik bikin aplikasi menggunakan jasa vendor

Era teknologi saat ini system aplikasi adalah sesuatu yang penting untuk memudahkan pengelolaan sebuah bisnis. Seiring meningkatnya kebutuhan akan penggunaan aplikasi membuat vendor penyedia pengembangan aplikasi juga semakin tumbuh subur. Di Indonesia sendiri tahun 2018 ini ada ribuat perusahaan pengembang aplikasi yang teridentifikasi dan jumlah ini belum ditambah dengan pemain perorangan (freelancer) yang juga menyedikan layanan sejenis. Namun perlu dilihat bahwa dari sekian banyak project pengembangan aplikasi sedikit sekali yang ternyata berhasil memenuhi output yang diharapkan oleh klien, tentu hal ini tidak bisa semata-mata salah pihak pengembangan karena faktor keberhasilan dalam pengembangan aplikasi adalah perlunya kerjasama dan komunikasi yang baik antara pihak klien dan pihak pengembang. Pada artikel kali ini akan dibahas beberapa tips tentang hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh klien saat akan menggunakan jasa pihak ketiga atau vendor dalam pengembangan aplikasi.

  1. Harus tahu aplikasi apa yang akan dibuat dan goal apa yang ditargetkan

Hal utama yang harus dipahami saat akan membuat aplikasi adalah klien harus tahu terlebih dahulu akan membuat aplikasi apa. Dalam banyak kasus khususnya klien lokal hanya memberikan informasi berupa contoh aplikasi yang akan dibangun tanpa tahu secara menyeluruh tujuan dan maksud dari aplikasi yang akan dikembangkan. Contoh kasus ditahun 2018 saja geekgarden banyak menerima request dari klien untuk membuat aplikasi seperti go jek tanpa klien itu tahu bangaimana proses kerja dan fitur apa saja yang ada di aplikasi go jek tersebut. Jika hal ini tidak di perhatikan besar kemungkinan akan menjadi permasalahan pada fase pengembangan bahkan dampak terburuknya adalah project tidak dapat diselesaikan karena klien yang inkonsistensi dalam menentukan goal project.

[Baca Juga: Jurus Jitu Meningkatkan Penjualan Di Era Digital]

  1. Buat dokumentasi sederhana

Jika poin 1 sudah beres maka langka berikutnya adalah buat dokumentasi sederhana. Setidaknya klien memiliki dokumentasi mengenai alur proses dari aplikasi yang akan dibangun. Bagaimana kondisi saat mulai dan akhir dari penggunaan aplikasi tersebut. Dokumentasi ini tidak perlu terlalu rumit dan dibuat dengan aplikasi yang khusus, cukup buat diagram alur saja dengan menggunakan aplikasi msoffice sudah lebih dari cukup agar vendor memiliki pandangan yang lebih detail terutama dalam menentukan lama waktu pekerjaan dan berapa biaya yang dihabiskan. Jika hal ini tidak dilakukan besar kemungkinan negosiasi tidak akan tercapai antara klien dan vendor. Bisa jadi ekspektasi harga yang berbeda atau bahkan vendor salah mengartikan skala pekerjaan sehingga pada saat pelaksanaan vendor akan kesulitan menghentikan perubahan kebutuhan dari klien dan hasilnya proyek akan semakin molor atau bisa jadi gagal closing.

  1. Pilih vendor atau freelance yang bisa mempresentasikan solusi, pehitungan harga dan metode kerja saat masa negosiasi.

Hal yang tidak kalah pentingnya yang harus dilakukan oleh klien adalah menentukan vendor yang seperti apa untuk menjadi mitra project nya. Salah satu cara untuk mengetahui kredibelitas dan kemampuan vendor dalam mengerjakan pekerjaan pengembangan aplikasi adalah kemampuan vendor tersebut dalam mempresentasikan solusi, perhitunan harga dan metode kerja yang diterapkan. Mulailah untuk mendiskusikan kemungkinan solusi-solusi apa saja yang dapat dipilih dan pastikan bahwa setiap solusi yang ditawarkan harus ada informasi mengenai estimasi waktu pengembangan dan berapa budget yang dibutuhkan. Jangan lupa juga untuk menanyakan plus dan minus masing-masing solusi yang dikemukakan oleh vendor agar bisa dilihat secara utuh solusi yang paling mungkin untuk di pilih. Jika solusi sudah disepakati jangan buru-buru untuk tanda tangan kontrak atau buat kesepakatan pastikan satu hal lagi yaitu vendor menguasai cara kerja dalam menerapkan solusi tersebut. Perlu diketahui bahwa banyak vendor yang menguasai teknologi pengembangan aplikasi namun minim pengetahuan tentang IT project management yang akhirnya membuat proyek tersebut berjalan tidak tentu arah karena tidak jelas antara rencana dan realisasi.

[Baca Juga: ERP, SOLUSI BISNIS DI ERA MODERN]

  1. Siapkan tempat penyimpanan pekerjaan terpusat (repository) jika memungkinkan.

Sebagai langkah antisipatif untuk menghindari wan prestasi vendor sebaiknya klien menyiapkan repository untuk penyimpanan proyek. Repository digunakan untuk menyimpan progress pekerjaan vendor jadi jika sewaktu-waktu vendor tidak dapat melanjutkan project maka source code sudah dapat diamankan dan apabila akan mau dilanjutkan pengembangan oleh vendor berikutnya tidak perlu mengulang dari awal.

  1. Lakukan meeting progress secara bertahap untuk membahas rencana dan realisasi

Suksesnya sebuah project tentu tidak terlepas dari komunikasi antara klien dan vendor termasuk dalam project pengembangan aplikasi. Sangat dianjurkan untuk melakukan komunikasi rutin atau meeting minggunan untuk menentukan rencana pengembangan satu minggu ke depan dan realisasi rencana satu minggu sebelumnya. Hal ini juga mengantisipasi supaya tidak ada perubahan goals dari kontrak proyek.

Itu saja beberapa tips yang bisa diimplementasikan klien untuk melakukan pengembangan aplikasi. Poin utama yang selalu diperhatikan adalah jangan memulai pengembangan aplikasi dengan kebutuhan yang rumit, mulailah dengan sederhana dan realisasikan secara bertahap karena perkembangan teknologi saat ini semakin cepat jika terlalu lama dalam pengembangan bisa jadi pada saat launching support teknologi untuk aplikasi yang dibuat malah tidak mendukung karena dibutuhkan update.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *